27 Maret 2017

Kebutuhan dan Pasokan Energi Nasional Semakin Tidak Imbang

Senin, 27 Maret 2017 | 09:16 WIB












Saat ini kondisi jumlah pasokan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia dengan jumlah kebutuhannya bagaikan neraca yang tidak berimbang. Indonesia sudah menjadi net oil importer semenjak 2004. Melihat tingginya permintaan gas dalam negeri, tidak menutup kemungkinan suatu saat Indonesia juga akan menjadi net gas importer.

Saat menjadi net oil importer, artinya minyak mentah yang kita impor lebih banyak dari yang diekspor. Saat ini produksi minyak dalam negeri memang tidak mampu memenuhi kebutuhan. Sebagai ilustrasi, lifting minyak (produksi minyak yang terjual) berada pada angka 829 ribu barrel per hari, sementara kebutuhan minyak mencapai 1,6 juta barrel per hari.

Dari sisi gas, produksi dalam negeri masih mampu memenuhi permintaan domestik. Namun perlu dicatat permintaan gas dari dalam negeri terus meningkat sebesar rata-rata 9 persen per tahun dari tahun 2003. Dengan dikembangkannya proyek kelistrikan yang memanfaatkan pembangkit tenaga gas, maka tidak menutup kemungkinan jika di masa depan produksi gas dalam negeri tidak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan domestik.

Sebenarnya Indonesia masih punya peluang untuk meningkatkan cadangan minyak. Secara geologis, potensi Indonesia cukup menjanjikan. Saat ini pun masih ada 74 cekungan hidrokarbon yang masih belum disentuh kegiatan eksplorasi. Pada cekungan-cekungan yang telah berproduksi pun, tidak menutup kemungkinan penemuan cadangan baru yang signifikan masih bisa terjadi.

Setidaknya perlu tiga langkah utama untuk mengatasi kesenjangan yang semakin melebar antara kebutuhan dan pasokan migas di Indonesia. Tiga solusi tersebut adalah meningkatkan produksi migas dengan teknologi baru, meningkatkan kegiatan eksplorasi atau pencarian cadangan migas baru, dan memperpendek jeda waktu antara penemuan cadangan dengan produksi migas.

Ketiga langkah ini tentunya membutuhkan aliran investasi. Teknologi baru untuk meningkatkan produksi dan eksplorasi jelas membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Sama halnya dengan memperpendek jeda waktu antara penemuan dengan produksi berarti memperlancar aliran investasi untuk membangun fasilitas-fasilitas produksi pada lapangan yang telah terkonfirmasi cadangannya.

Untuk itu, semua hambatan investasi pada industri hulu migas harus dipangkas, baik hambatan yang bersifat regulasi, teknis, maupun sosial masyarakat.

Semua pemangku kepentingan, baik lembaga negara, pemerintah daerah, dan elemen lain, termasuk masyarakat setempat perlu menciptakan suasana yang kondusif bagi masuknya investasi hulu migas. Hanya dengan lancarnya investasi hulu migas lah, cadangan dapat ditambah dan Indonesia bisa terhindar dari ancaman krisis migas. (Adv)

26 Maret 2017

Cara Pemasangan HHO Hydrogen aDhydro type L

Dari kabel 2 buah yang saya pegang yang hitam belang putih itu adalah plus ikut kunci kontak ON
yang pendek itu adalah minus ikut ke body mobil



Pasang selang lubang atas ketemu lubang atas sesuai dua jari dan lubang bawah ketemu lubang bawah sesuai Dua Jari

















Pemasangan selang tidak boleh naik turun harus gradual naik dari bawah ke atas supaya hidrogen yang diproduksi ditabung putih akan dengan mudah mengalir tabung biru
















Lubang bawah dipasang selang ke bawah mobil biasanya nempel di bumper untuk keran buangan air kotor
Selang yang ada di atas botol biru itu menuju ke kotak filter udara atau belalai filter udara















Selesai Test, seharusnya gas akan timbul seperti di video ini
https://youtu.be/UuO5GEmNQHM

aDhydro Hydrogen HHO on Renault Duster Black

[3/26, 6:25 AM] Om Bay : Kesan pertama..... GILLLLLAAAAAAAAA ENAAAAKKK BAAANNGEETTT
[3/26, 6:26 AM] Arief : Udah sampai ya
[3/26, 6:26 AM] Om Bay : Dr speed 60 - 120 jossss
[3/26, 6:26 AM] Om Bay : Pajero sampe minggir dikasih lampu
[3/26, 6:26 AM] Om Bay : Risih kali pak
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Tooooppp markotop
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Ngebantu bgt buat ngail torsi 200nm duster
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Asli enak pak
[3/26, 6:27 AM] Arief : Mesin alus tetep kan?
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Alus pak
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Td parkir masuk garasi ga nginjek gas.. cukup buka kopling perlahan
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Kaya di kasih nafaa buatan pak
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Gokil
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Blm pernah saya segembira ini pak
[3/26, 6:29 AM] Arief : Seperti cinta pertama pas boil baru kan?
[3/26, 6:30 AM] Om Bay : Ga butuh racechip...
[3/26, 6:30 AM] Arief: Betul punyaku ku cofot
[3/26, 6:30 AM] Om Bay : *menurut saya lo pak
[3/26, 6:30 AM] Arief : Udah diatas 200Nm itu pa
[3/26, 6:30 AM] Om Bay : Enak enak enakkkkkkkk
[3/26, 6:31 AM] Om Bay : Test ahhh tar ke bdg
[3/26, 6:32 AM] Om Bay : Alhamdulillah bahagia aman sentosa
[3/26, 6:32 AM] Om Bay : Cm ngeri ngerem aja sih
[3/26, 6:34 AM] Arief : Itu testi hidrogen

Yg terenak adalah testi
Frekuensi ganti air lama kotornya lama itu yang paling penting sedikit perawatan, nggak ngerepotin




11 Maret 2017

Pengiritan di Toyota AGYA sungguh LUAR BIASA 31,3 (3 orang) >>> 17,7km/liter, muatan 5 orang

Mohon maaf ternyata setelah dicek dengan teliti dengan jarak yang lebih jauh hanya tercapai 1 liter untuk 17,7 km

ini untuk menghindari kesalahan pengukuran dispenser BBM di SPBU



Hasil pengetesan ini adalah benar adanya tetapi kami menduga adanya kesalahan dispenser SPBU

Hari ini kami melakukan pengetesan oxygen sensor piggyback yang dipasang di Toyota Agya dipadukan dengan hidrogen generator yang sudah terpasang dua minggu sebelumnya

Hasil pengetesan kita berjalan-jalan dari Citra Raya Cikupa menuju ke pintu tol Bitung lalu masuk ke arah Balaraja Barat ada sedikit Space untuk tol Kita uji kecepatan maksimum kita tempuh 120 km per jam

Keluar dari pintu tol Balaraja Barat disongsong oleh macet masuk ke citraraya kembali banyak jalan tikus yang macet pada hari Sabtu ini

Lalu kami mengisi bahan bakar minyak di pom bensin yang sama dan didapat pengisian bahan bakar hanya 0,93 liter dengan jarak tempuh 29,2 KM artinya 1 liter bahan bakar minyak pertalite mampu untuk menempuh jarak sejauh 31,3 km

[3/11, 2:00 PM] Renault Michael Andri: Cara pengukuran spt apa?
[3/11, 2:00 PM] Renault Michael Andri: Trayek nya? Drive style nya?
[3/11, 2:09 PM] Arief aDnet : Teman yang ikut mengetes sampai mabok karena saya kalau pakai Agya loncat-loncat nyetirnya





07 Maret 2017

aDhydro ingin design HHO nya dipakai masal : Mengerucut, Wacana Pajak Berdasarkan Emisi

Senin, 5 Desember 2016 | 07:02 WIB
Otomania/Setyo Adi

Jakarta, KompasOtomotif – Pemerintah terus mengkaji dan menyiapkan tersusunnya aturan baru pajak yang didasarkan pada emisi gas buang kendaraan. Sejauh ini, Kementerian Perindustrian sudah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak untuk membuat aturan baru ini makin mengerucut.

I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian mengatakan bahwa aturan itu memang masih disusun, berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian lingkungan hidup dan Kehutanan), Kementerian ESDM, dan Kementerian Perhubungan.

”Sekarang teman-teman di Kemenkeu mesti menghitung, jangan sampai nanti (setelah diterapkan pajak berdasarkan emisi gas buang) malah mengganggu penerimaan negara,” kata Putu dalam sebuah kesempatan di Jakarta, (30/11/2016).

Putu menjelaskan kembali, bahwa ke depan, struktur pajak tidak akan didasarkan pada kapasitas silinder, melainkan emisi gas buang dari kendaraan. Makin tinggi emisi, pajak akan makin tinggi. Sebaliknya, makin rendah karbon yang dihasilkan, pajak juga tambah murah.

Selain berkoordinasi dengan tiga kementerian, Putu juga menyatakan bahwa ada banyak pertimbangan juga di sisi agen pemegang merek (APM). ”APM harus menghitung, jangan sampai peraturan sudah keluar, mereka tidak memenuhi. Ini bahaya, dan karena itulah harus dipikirkan juga masa transisi,” ucap Putu.

Masa transisi setelah aturan keluar itu menurut Putu butuh waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa satu atau dua tahun. Tahun depan, target Kementerian Perindustrian adalah merampungkan aturannya terlebih dahulu, setelahnya bicara soal transisi.

Penulis : Donny Apriliananda
Editor : Agung Kurniawan


Dengan berita-berita yang ramai di media, aDhydro mau konsep hitungan pemakaian HHO hydrogen sebagai PENGURANG EMISI kendaraan bermotor dengan keuntungan sebagai berikut
  • EFISIENSI, lebih hemat bahan BBM, hemat daya listrik (versi 40W)
  • AMAN, dengan separator air kotor yang terpantau dan proteksi ledakan, dan posisi alat tidak di dalam kabin, produksi gas hanya saat dibutuhkan, tidak disimpan, penetralan sedikit gas sisa produksi dalam 10 menit
  • MUDAH PERAWATAN, hanya air saja, tanpa katalis, hanya air bersih mudah didapat (AQUA)
  • MURAH biaya produksinya
  • TAHAN LAMA umur pakai sel reaktor dengan tanpa/ sedikit panas, daya tahan tinggi, gas banyak untuk kelas watt nya
  • MINIM PERAWATAN umur interval ganti air yang panjang, air tetap bening dengan indikator waktu ganti air
  • STABIL, automatic Power Wattage adjusment, produksi gas yang konstan dan bisa diandalkan
  • LAYAK DIGUNAKAN MASAL kecil, ringan, praktis, hemat ruang/ akomodasi
Siap bekerja sama dengan APM ataupun pebisnis/ pemerintah, LIPI untuk dibuat masal untuk kepentingan orang banyak
Bukan gas hho hidrogen yang banyak yang membuat pengiritan, namun hitungan yang tepat dalam ketahanan, efisiensi, kemudahan perawatan, keamanan, dan harga murah jadi penentu keterjangkauan masyarakat.