Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Media. Tampilkan semua postingan

27 Maret 2017

Kebutuhan dan Pasokan Energi Nasional Semakin Tidak Imbang

Senin, 27 Maret 2017 | 09:16 WIB












Saat ini kondisi jumlah pasokan minyak dan gas bumi (migas) di Indonesia dengan jumlah kebutuhannya bagaikan neraca yang tidak berimbang. Indonesia sudah menjadi net oil importer semenjak 2004. Melihat tingginya permintaan gas dalam negeri, tidak menutup kemungkinan suatu saat Indonesia juga akan menjadi net gas importer.

Saat menjadi net oil importer, artinya minyak mentah yang kita impor lebih banyak dari yang diekspor. Saat ini produksi minyak dalam negeri memang tidak mampu memenuhi kebutuhan. Sebagai ilustrasi, lifting minyak (produksi minyak yang terjual) berada pada angka 829 ribu barrel per hari, sementara kebutuhan minyak mencapai 1,6 juta barrel per hari.

Dari sisi gas, produksi dalam negeri masih mampu memenuhi permintaan domestik. Namun perlu dicatat permintaan gas dari dalam negeri terus meningkat sebesar rata-rata 9 persen per tahun dari tahun 2003. Dengan dikembangkannya proyek kelistrikan yang memanfaatkan pembangkit tenaga gas, maka tidak menutup kemungkinan jika di masa depan produksi gas dalam negeri tidak akan mampu lagi memenuhi kebutuhan domestik.

Sebenarnya Indonesia masih punya peluang untuk meningkatkan cadangan minyak. Secara geologis, potensi Indonesia cukup menjanjikan. Saat ini pun masih ada 74 cekungan hidrokarbon yang masih belum disentuh kegiatan eksplorasi. Pada cekungan-cekungan yang telah berproduksi pun, tidak menutup kemungkinan penemuan cadangan baru yang signifikan masih bisa terjadi.

Setidaknya perlu tiga langkah utama untuk mengatasi kesenjangan yang semakin melebar antara kebutuhan dan pasokan migas di Indonesia. Tiga solusi tersebut adalah meningkatkan produksi migas dengan teknologi baru, meningkatkan kegiatan eksplorasi atau pencarian cadangan migas baru, dan memperpendek jeda waktu antara penemuan cadangan dengan produksi migas.

Ketiga langkah ini tentunya membutuhkan aliran investasi. Teknologi baru untuk meningkatkan produksi dan eksplorasi jelas membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Sama halnya dengan memperpendek jeda waktu antara penemuan dengan produksi berarti memperlancar aliran investasi untuk membangun fasilitas-fasilitas produksi pada lapangan yang telah terkonfirmasi cadangannya.

Untuk itu, semua hambatan investasi pada industri hulu migas harus dipangkas, baik hambatan yang bersifat regulasi, teknis, maupun sosial masyarakat.

Semua pemangku kepentingan, baik lembaga negara, pemerintah daerah, dan elemen lain, termasuk masyarakat setempat perlu menciptakan suasana yang kondusif bagi masuknya investasi hulu migas. Hanya dengan lancarnya investasi hulu migas lah, cadangan dapat ditambah dan Indonesia bisa terhindar dari ancaman krisis migas. (Adv)

26 Maret 2017

aDhydro Hydrogen HHO on Renault Duster Black

[3/26, 6:25 AM] Om Bay : Kesan pertama..... GILLLLLAAAAAAAAA ENAAAAKKK BAAANNGEETTT
[3/26, 6:26 AM] Arief : Udah sampai ya
[3/26, 6:26 AM] Om Bay : Dr speed 60 - 120 jossss
[3/26, 6:26 AM] Om Bay : Pajero sampe minggir dikasih lampu
[3/26, 6:26 AM] Om Bay : Risih kali pak
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Tooooppp markotop
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Ngebantu bgt buat ngail torsi 200nm duster
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Asli enak pak
[3/26, 6:27 AM] Arief : Mesin alus tetep kan?
[3/26, 6:27 AM] Om Bay : Alus pak
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Td parkir masuk garasi ga nginjek gas.. cukup buka kopling perlahan
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Kaya di kasih nafaa buatan pak
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Gokil
[3/26, 6:28 AM] Om Bay : Blm pernah saya segembira ini pak
[3/26, 6:29 AM] Arief : Seperti cinta pertama pas boil baru kan?
[3/26, 6:30 AM] Om Bay : Ga butuh racechip...
[3/26, 6:30 AM] Arief: Betul punyaku ku cofot
[3/26, 6:30 AM] Om Bay : *menurut saya lo pak
[3/26, 6:30 AM] Arief : Udah diatas 200Nm itu pa
[3/26, 6:30 AM] Om Bay : Enak enak enakkkkkkkk
[3/26, 6:31 AM] Om Bay : Test ahhh tar ke bdg
[3/26, 6:32 AM] Om Bay : Alhamdulillah bahagia aman sentosa
[3/26, 6:32 AM] Om Bay : Cm ngeri ngerem aja sih
[3/26, 6:34 AM] Arief : Itu testi hidrogen

Yg terenak adalah testi
Frekuensi ganti air lama kotornya lama itu yang paling penting sedikit perawatan, nggak ngerepotin




11 Maret 2017

Pengiritan di Toyota AGYA sungguh LUAR BIASA 31,3 (3 orang) >>> 17,7km/liter, muatan 5 orang

Mohon maaf ternyata setelah dicek dengan teliti dengan jarak yang lebih jauh hanya tercapai 1 liter untuk 17,7 km

ini untuk menghindari kesalahan pengukuran dispenser BBM di SPBU



Hasil pengetesan ini adalah benar adanya tetapi kami menduga adanya kesalahan dispenser SPBU

Hari ini kami melakukan pengetesan oxygen sensor piggyback yang dipasang di Toyota Agya dipadukan dengan hidrogen generator yang sudah terpasang dua minggu sebelumnya

Hasil pengetesan kita berjalan-jalan dari Citra Raya Cikupa menuju ke pintu tol Bitung lalu masuk ke arah Balaraja Barat ada sedikit Space untuk tol Kita uji kecepatan maksimum kita tempuh 120 km per jam

Keluar dari pintu tol Balaraja Barat disongsong oleh macet masuk ke citraraya kembali banyak jalan tikus yang macet pada hari Sabtu ini

Lalu kami mengisi bahan bakar minyak di pom bensin yang sama dan didapat pengisian bahan bakar hanya 0,93 liter dengan jarak tempuh 29,2 KM artinya 1 liter bahan bakar minyak pertalite mampu untuk menempuh jarak sejauh 31,3 km

[3/11, 2:00 PM] Renault Michael Andri: Cara pengukuran spt apa?
[3/11, 2:00 PM] Renault Michael Andri: Trayek nya? Drive style nya?
[3/11, 2:09 PM] Arief aDnet : Teman yang ikut mengetes sampai mabok karena saya kalau pakai Agya loncat-loncat nyetirnya





07 Maret 2017

aDhydro ingin design HHO nya dipakai masal : Mengerucut, Wacana Pajak Berdasarkan Emisi

Senin, 5 Desember 2016 | 07:02 WIB
Otomania/Setyo Adi

Jakarta, KompasOtomotif – Pemerintah terus mengkaji dan menyiapkan tersusunnya aturan baru pajak yang didasarkan pada emisi gas buang kendaraan. Sejauh ini, Kementerian Perindustrian sudah melakukan pertemuan dengan berbagai pihak untuk membuat aturan baru ini makin mengerucut.

I Gusti Putu Suryawirawan, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian mengatakan bahwa aturan itu memang masih disusun, berkoordinasi dengan Kementerian Keuangan, Kementerian lingkungan hidup dan Kehutanan), Kementerian ESDM, dan Kementerian Perhubungan.

”Sekarang teman-teman di Kemenkeu mesti menghitung, jangan sampai nanti (setelah diterapkan pajak berdasarkan emisi gas buang) malah mengganggu penerimaan negara,” kata Putu dalam sebuah kesempatan di Jakarta, (30/11/2016).

Putu menjelaskan kembali, bahwa ke depan, struktur pajak tidak akan didasarkan pada kapasitas silinder, melainkan emisi gas buang dari kendaraan. Makin tinggi emisi, pajak akan makin tinggi. Sebaliknya, makin rendah karbon yang dihasilkan, pajak juga tambah murah.

Selain berkoordinasi dengan tiga kementerian, Putu juga menyatakan bahwa ada banyak pertimbangan juga di sisi agen pemegang merek (APM). ”APM harus menghitung, jangan sampai peraturan sudah keluar, mereka tidak memenuhi. Ini bahaya, dan karena itulah harus dipikirkan juga masa transisi,” ucap Putu.

Masa transisi setelah aturan keluar itu menurut Putu butuh waktu yang tidak bisa ditentukan, bisa satu atau dua tahun. Tahun depan, target Kementerian Perindustrian adalah merampungkan aturannya terlebih dahulu, setelahnya bicara soal transisi.

Penulis : Donny Apriliananda
Editor : Agung Kurniawan


Dengan berita-berita yang ramai di media, aDhydro mau konsep hitungan pemakaian HHO hydrogen sebagai PENGURANG EMISI kendaraan bermotor dengan keuntungan sebagai berikut
  • EFISIENSI, lebih hemat bahan BBM, hemat daya listrik (versi 40W)
  • AMAN, dengan separator air kotor yang terpantau dan proteksi ledakan, dan posisi alat tidak di dalam kabin, produksi gas hanya saat dibutuhkan, tidak disimpan, penetralan sedikit gas sisa produksi dalam 10 menit
  • MUDAH PERAWATAN, hanya air saja, tanpa katalis, hanya air bersih mudah didapat (AQUA)
  • MURAH biaya produksinya
  • TAHAN LAMA umur pakai sel reaktor dengan tanpa/ sedikit panas, daya tahan tinggi, gas banyak untuk kelas watt nya
  • MINIM PERAWATAN umur interval ganti air yang panjang, air tetap bening dengan indikator waktu ganti air
  • STABIL, automatic Power Wattage adjusment, produksi gas yang konstan dan bisa diandalkan
  • LAYAK DIGUNAKAN MASAL kecil, ringan, praktis, hemat ruang/ akomodasi
Siap bekerja sama dengan APM ataupun pebisnis/ pemerintah, LIPI untuk dibuat masal untuk kepentingan orang banyak
Bukan gas hho hidrogen yang banyak yang membuat pengiritan, namun hitungan yang tepat dalam ketahanan, efisiensi, kemudahan perawatan, keamanan, dan harga murah jadi penentu keterjangkauan masyarakat.

aDhydro mendukung : Menggagas Pajak Emisi Gas Buang

Oleh Joko Tri Haryanto, pegawai Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan RI*
http://www.kemenkeu.go.id/sites/default/files/Menggagas%20Pajak%20Emisi%20Gas%20Buang.pdf

Dalam sebuah artikel di situs Hijau Indonesia, disebutkan adanya ketidaksadaran kita telah hidup di kota dengan tingkat polusi yang jauh melebihi standar yang berlaku secara internasional. Dan tanpa disadari juga, selama ini kita telah menghirup udara yang mengandung benda-benda partikulat yang sangat tinggi. Menurut penelitian WHO, banyak kota-kota besar di dunia, termasuk di Indonesia yang memiliki tingkat polusi PM10 rata-rata per tahun yang jauh melebihi batas aman yang ditetapkan organisasi kesehatan dunia ini.
Dari sisi akademik, PM10 adalah benda-benda partikulat yang ukurannya kurang dari 10 mikron. Benda-benda partikulat ini hampir mustahil diamati dengan mata telanjang. Manusia hanya bisa melihat benda dengan berukuran sama atau di atas 40 mikron tanpa bantuan alat seperti mikroskop. Benda-benda partikulat inilah yang bertanggung jawab terhadap berbagai masalah kesehatan di masyarakat seperti asma, bronkitis, kanker paru-paru hingga perilaku kekerasan dan menurunnya kecerdasan anak.
Berdasarkan laporan yang dirilis WHO misalnya, dari 5 kota di Indonesia yang diamati, hanya Kota Pekanbaru yang memiliki standar polusi rata-rata per tahun di bawah standar WHO sebesar 20 mikrogram per meter kubik (20 µg/m3). Dari data yang diambil WHO pada 2008, tingkat polusi PM10
Pekanbaru sebesar 11 mikrogram per meter kubik (11 µg/m3). Sedangkan kota-kota besar lain di Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Bandung dan Medan, memiliki tingkat polusi yang jauh di atas batas aman WHO.
Jakarta misalnya, standar polusi udara yang dicatat WHO di tahun 2008 sudah mencapai 43 µg/m3 – 200% di atas standar aman WHO. Angka ini meningkat pada 2009 menjadi 68,5 µg/m3 atau lebih dari 300% dari standar aman WHO. Tahun 2010 angka ini diklaim turun walaupun masih 200% di atas standar WHO menjadi 48,5 µg/m3 sebagian karena efek diselenggarakannya program bebas kendaraan bermotor di Jakarta (Jakarta Car Free Day).
Masih berdasar laporan yang sama, Kota Surabaya, Bandung dan Medan justru memiliki kualitas udara yang lebih parah dari Jakarta. Standar polusi PM10 di Kota Kembang mencapai rata-rata 51 µg/m3 per tahun, sementara di Surabaya nilainya mencapai 69 µg/m3, dan Medan mencapai 111 µg/m3 per tahun. Angka-angka di atas memberikan gambaran nyata betapa buruknya tingkat polusi udara di kota-kota besar di Tanah Air.
Kondisi ini tentu saja menggambarkan trade off yang sangat rumit, mengingat sektor otomotif sering diklaim menjadi penyumbang utama memburuknya kualitas udara, sementara di sisi lain sektor otomotif juga menjadi kontributor utama pertumbuhan ekonomi nasional khususnya dari sektor konsumsi masyarakat. Terlebih di tahun 2012, berdasarkan data Gaikindo, pasar mobil baru-baru saja mencetak rekor penjualan unit mobil hingga 1 juta unit, tertinggi dalam sepanjang sejarah industri otomotif nasional. Selama 10 tahun terakhir, tren penjualan kendaraan bermotor khususnya, mobil memang terus meningkat secara signifikan. Jika tahun 2003, penjualan mobil masih di kisaran 354 ribu unit kendaraan, tahun 2011 angka penjualan sudah melonjak hingga 813 ribu unit  kendaraan. Sempat terjadi sedikit fluktuasi tahun 2006 dan 2009 seiring dengan badai krisis ekonomi yang melanda dunia.
Dari sisi domestik, fluktuasi tersebut berbarengan dengan kebijakan Pemerintah untuk menaikkan harga BBM bersubsidi. Pencapaian prestasi penjualan 1 juta unit mobil tentu patut mendapat apresiasi tersendiri, mengingat beratnya tantangan dan hambatan yang menghadang di tahun 2012, mulai dari wacana kenaikan harga BBM bersubsidi, kenaikan uang muka kredit kendaraan serta permasalahan buruh yang tak kunjung mereda. Keberhasilan tersebut sekaligus mengindikasikan 100% pulihnya daya beli masyarakat yang sempat terpuruk akibat krisis ekonomi.
Menggeliatnya pasar otomotif memang memberi dampak signifikan bagi pertumbuhan ekonomi nasional. Sayangnya, kenaikan laju sektor otomotif masih belum seimbang dengan ketersediaan jalan, pengaturan perparkiran serta penyediaan transportasi publik. Beberapa proyek transportasi umum memang tengah disiapkan meskipun masih terkendala baik oleh permasalahan birokrasi maupun teknis. Akibatnya, sebagaimana telah disampaikan, kualitas udara di beberapa kota-kota besar di Indonesia terus memburuk.
Banyak kerugian yang ditimbulkan oleh terlepasnya berbagai zat beracun dalam kendaraan bermotor ke udara. Secara umum dampak-dampak yang sering teridentifikasi adalah munculnya gangguan hipertensi akibat tekanan kerja jantung yang berlebihan untuk mengalirkan darah ke seluruh tubuh, munculnya penyakit gangguan mata, penurunan kecerdasan, terganggunya perkembangan mental anak, penyakit aluran pernafasan serta dalam jangka panjang munculnya bahaya kanker dan gangguan fungsi reproduksi pria.
Secara teori ada beberapa strategi yang dapat dilakukan untuk mengendalikan emisi gas buang melalui kebijakan fiskal dan non-fiskal. Melalui kebijakan fiskal, Pemerintah dapat mengenakan mekanisme pajak kendaraan, pajak bahan bakar serta insentif fiskal untuk kendaraan ramah lingkungan. Sedangkan strategi non-fiskal dapat ditempuh melalui pengetatan standar emisi gas buang, pembatasan lalu lintas, pengembangan bahan bakar ramah lingkungan serta peningkatan kualitas bahan bakar.
Ide Pajak Emisi Gas Buang
Hingga saat ini, Pemerintah sudah menerapkan standar pengaturan emisi gas buang sebagai prasyarat di dalam perpanjangan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) setiap tahunnya. Bahkan persyaratan mengenai emisi gas buang sudah menjadi aturan tersendiri dalam Peraturan Pemerintah Nomor 55 Tahun 2012 tentang Kendaraan. Dalam Pasal 64 paragraf 1 dikatakan bahwa emisi gas buang menjadi persyaratan laik jalan kendaraan bermotor. Pasal 65 juga menyebutkan bahwa emisi kendaraan bermotor harus diukur berdasarkan kandungan polutan yang dikeluarkan kendaraan bermotor serta wajib tidak melebihi ambang batas yang ditetapkan. Penetapan ambang batas tersebut diselenggarakan oleh kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang lingkungan hidup. 
Berdasarkan besarnya dampak yang ditimbulkan oleh pengelolaan emisi gas buang, penulis menyarankan untuk mengkaji lebih dalam kemungkinan pengenaan pajak emisi gas buang setiap tahunnya, berbarengan dengan pengenaan PKB. Dengan pengenaan pajak emisi gas buang, nantinya tidak akan menghilangkan kewajiban pembayaran berbagai jenis pajak kendaraan bermotor (PKB) lainnya, namun ada sedikit penyesuaian di dalam sistem pemungutannya. Pajak emisi gas buang tersebut nantinya akan mengadopsi mekanisme insentif dan dis-insentif pajak. Untuk kendaraan bermotor yang melebihi ambang batas emisi gas buang akan dikenakan tarif pajak progresif, sebaliknya untuk kendaraan bermotor yang mampu mengelola emisi gas buang di bawah ambang batas akan memperoleh keringanan tarif pajak. Pajak emisi gas buang tersebut nantinya akan dikenakan oleh Pemda dan dikelola oleh Provinsi, berbarengan dengan pengenaan PKB di dalam STNK pemilik kendaraan bermotor.
Seyogyanya pajak emisi gas buang kendaraan bermotor ini wajib di ear marking, untuk dikembalikan lagi kepada pembangunan infrastruktur jalan, pemeliharaan jalan, infrastruktur transportasi umum, pengembangan bahan bakar alternatif, pengujian emisi serta upaya perbaikan kualitas udara yang tercemar. Pemda yang tidak menaati aturan penggunaan dapat dikenakan sanksi dan hukuman misalnya tidak mendapatkan alokasi dana untuk periode selanjutnya.
Terkait ide tersebut, Indonesia dapat mencontoh Australia yang sudah terlebih dahulu menerapkan mekanisme pajak emisi gas buang. Meskipun awalnya menuai banyak protes khususnya dari para oposisi dan industriawan, pajak itu akan dikenakan pada polusi yang dihasilkan oleh korporasi. Sekitar 350 perusahaan ‘produsen’ polusi utama harus membayar sebesar 23 dolar Australia atau setara Rp220 ribu untuk setiap ton karbon yang mereka hasilkan. Sebagai gambaran, Australia sendiri merupakan salah satu negara produsen polusi per kapita terparah di dunia.
Dengan skema tersebut, Pemerintah Australia berharap tahun 2020, polusi karbon Australia setidaknya akan berkurang 159 juta ton/tahun dibandingkan dengan jika skema tidak diterapkan. Pengurangan polusi ini sama dengan melenyapkan sekitar 45 juta mobil dari jalanan. Rencananya setelah 3 tahun berjalan, akan ada transisi dari pajak karbon ke skema perdagangan emisi berbasis pasar.
Demi tujuan perbaikan bersama Jakarta yang kita cintai, rumusan di atas tentu bukan hal mutlak yang tidak dapat diperdebatkan. Justru berbagai masukan yang konstruktif sangat dibutuhkan. Namun semuanya harus bermuara pada satu tujuan bersama menciptakan transportasi Jakarta yang bersahabat dan bermartabat.

*Tulisan ini adalah pendapat pribadi dan tidak mencerminkan kebijakan institusi di mana penulis bekerja

02 Maret 2017

Penyempurnaan Oxigen O2 Sensor Piggy Back 2017


  1. Low Wattage, pemakaian power hanya 2 watt, power ikut power on kontak
  2. Easy, Only modifikasi jalur 1 kabel di O2 sensor, bukan kabel body
  3. Berguna untuk memonitor kondisi pulsa O2 sensor, yang bertanggung jawab terhadap AFR
  4. Mudah dalam pemasangan dan pengoperasian
  5. Auto Bypass CEL, jika alat tidak beroperasi karena + atau - terputus maka CEL (cek engine light) tidak menyala, atau mobil tetap berjalan normal namun tanpa pengaturan OSP ini.
  6. Over voltage Protection, tegangan keluaran dibatasi maksimum 0,8 volt ke ECU mobil
  7. Modified Output from O2 sensor signal hasilkan Ultra Lean AFR/ Lambda besar, digunakan jika alat HHO yang terpasang di mobil
  8. Wide Range Tuning, bisa buat irit, sangat irit, normal atau performance.
  9. High Input impedance: > 3000 Ohm, aman bagi O2 sensor.
  10. Untuk semua mobil dengan Oksigen Sensor type NARROW BAND single O2 sensor

28 Januari 2015

Agya dan Ayla sudah bawaan irit dari pabrikan nya

Belajar Irit dimulai dari kaki kanan kita, jangan terlalu banyak gas terlalu dalam, gunakan rem sesedikit mungkin, rpm < 2500 dan utamakan eco lamp indikator nyala sesering mungkin, ayla atau agya mudah koq dapat ukuran 20kpl, walau actual ukuran kpl metode full to full dengan ban ukuran standar ada potongan 10%, artinya bacaan di display kelebihan 10%

Wah ,kalau kena HHO atau pure H2 bisa jadi berapa kpl nih mobil?

14 Mei 2009

Konsep Optimalisasi MNS

Klik Gambar untuk perbesar

Motor Matic Irit

Klik Gambar untuk perbesar

26 April 2009

hho itu mitos? siapa bilang, ada penyebabnya

Quote:
Originally Posted by olga_thehacker
Mitos Bahan Bakar HHO (HHO Fuel Myths) Ujicoba Oleh Popular Mechanics
http://www.popularmechanics.com/automotive/how_to/4310717.html?page=1
Jawaban:
Wah Bro, bener itu kalao hho only emang nggak powerful, ttp bgmn hasil hho kami yang termuat di
sriwijawa post?
http://www.sripoku.com/view/5668/Bajaj_Pulsar_200_DTSi_Teririt_di_Dunia.html
termuat di
Otomotif kompas?
http://otomotif.kompas.com/read/xml/2009/02/03/10514911/bajajpulsar200dtsiteriritdiduniadarila
termuat di
tablid motorplus?
http://pengiritbbm.blogspot.com/2009/02/oxyhydrogen-step-terakhir-konsep.html
termuat di tabloid otomotif?
http://pengiritbbm.blogspot.com/2008/12/motor-teririt-di-jakarta.html
termuat di majalah motor?
http://pengiritbbm.blogspot.com/2008/12/adhydro-static-mobil-di-majalah-motor.html

semua objektif tanpa uang atau kolusi nih bro?
Pls review link diatas

Betul
Pakai hho only apalagi di mobil keluaran terbaru dengan O2 sensor (th 2007/ lebih muda) tidak akan iritkan bensin, malah pada jumlah hho ttt/ kebanyakan malah tambah boros!
Nih alasannya

dengan hho yaitu H2 dan O2 dimasukkan ke dalam ruang pembakaran, maka H2 akan menyempurnakan pembakaran dan menaikkan torsi, mengurangi emisi. Tetapi O2 yang dimasukkan ke ruang mesin juga ikut, sedangkan mesin sudah ada hitungan jumlah O2 dan jumlah bbm yang harus diberikan. Tetapi O2 dari elektrolisa nya tidak terjitung, malah jadi kebanyakan O2 yang justru memastikan semua bbm terbakar habis.
Tetapi sialnya O2 yang justru bertambah di buangan knalpot malah terbaca oleh O2 sensor. dengan semakin tinggi kadar O2 maka ECU justru menganggap bbm semua habis terbakar, jadi masih kurang dong bbmnya. Alih2 maka justru ditambahlah jumlah bbm dengan memperlama bukaan injector. Tenaga makin beringas, tanpa ngelitik, dan di gas sedikit saja sudah ngacir, tetapi ujung2nya bbmnya nggak tambah irit, jadi ginama dong

Ini jawabannya: Karena hampir tidak mungkin memisahkan H2 dan O2 hasil elektrolisa, maka Butuh O2 sensor piggyback, untuk mengkoreksi kelebihan O2 yang berlebih di emisi knalpot, hasil telah nyata terbukti koq

http://pengiritbbm.blogspot.com/search/label/O2%20Piggy%20Back
New Features Oxigen Sensor Piggyback (OSP/ EFIE)
1. Low Wattage, pemakaian power hanya 2 watt, power ikut power on kontak
2. Easy, Only 1 wire cut, hanya potong 1 kabel di O2 sensor, bukan kabel body, sekalian berguna untuk memonitor kondisi pulsa O2 sensor, yang bertanggung jawab terhadap AFR, dengan terminal 4 jalur, sangat mudah memasangnya
3. Safe 1, Anti Ground Fail Sensing, sensor dan ECU aman jika ground alat mengalami gangguan.
4. Safe 2, Over voltage Protection, tegangan keluaran diprotek maks 0,8 volt ke ECU mobil
5. Safe 3, Anti Polution Fault/ Anti Check Engine Light (CEL) from ECU: dengan input dari O2 sensor, Modified Output from O2 Input dan Self Generating Modified Independent Signal, gabungan keduanya hasilkan Ultra Lean AFR, digunakan jika alat HHO yang terpasang di mobil jenis Brute Force Electrolysis, dengan keluaran minimal 200 cc/menit pada mesin bensin up to 1500 cc/ 2500 cc diesel non turbo. Segera hadir More Brute Force Electrolysis ECU combined with New Design Durable Longer Life HHO Reactor dengan HHO output up to 300 cc/menit untuk mesin bensin up to 2500 cc/ 2500 cc diesel turbo
6. Wide Range Tuning, bisa buat irit, normal atau performance
7. Bypass Switch
8. High Input impedance: > 3900 Ohm
9. Good Design, dibuat untuk semua mobil dengan Oksigen Sensor type NARROW BAND, untuk jenis WIDE BAND belum tersedia
10. Release on December 2008

12 Februari 2009

versi Sriwijaya Post: Bajaj Pulsar 200 DTSi Teririt di Dunia


Motor Plus

Sriwijaya Post - 4/2/2009 11:29 WIB
Dengan 1 liter bensin Bajaj Pulsar 200 DTSi bisa menempuh sejauh 266 km. Barangkali motor dari India ini boleh diklaim sebagai yang teririt di dunia. Dikatakan oleh si pemiliknya Hendry Martin ST bahwa setiap bulan hanya diisi 5 liter bensin.

Setiap hari rute motor jenis sport itu dari rumah ke kantor berjarak 26 km. Belum lagi kata Martin dibawa keliling rumah. Penasarankan, kok bisa seirit itu? Bebek maupun skubek aja enggak ada bisa menempuh di atas 100 km untuk 1 liter.

Saking penasarannya, tim Motor Plus pun menjajalnya, meski harus dua kali lantaran yang pertama ada kebocoran pada peralatan. Baru uji kedua dengan menempuh 16 km menghabiskan bensin 60 ml. Jadi, kalau 1 liter (1.000 ml) bisa merayap sejauh 266 km. Padahal, standarnya Pulsar DTSi untuk 1 liter hanya mencapai 40 km.

Generator hydrogen

Martin bisa bikin motornya superirit hanya bermodalkan sekitar Rp1,5 juta. Biaya itu untuk membeli berbagai peranti penghemat seperti Xado Revitalisasi, DC Booster, CDI stabilizer, Xtreme Fire booster dan Generator Hydrogen. Dari semua peranti itu, generator hydrogen memberi pengaruh paling besar dan harga alatnya Rp 375 sudah termasuk ongkas pasang.

Keiritannya bisa mencapai 47,5 persen. Alat ini yang memproduksi air menjadi bahan bakar karena, kata martin generator memiliki elemen atau sel yang beresonansi setelah diberi arus listrik. “Akibat resonansi tadi, gas hidrogen dan oksigen yang ada di air keluar dan kemudian disalurkan ke karburator sehingga terjadi ledakan,” bilang warga Lenteng Agung, Jakarta Selatan ini.

Sistem penyaluran gas (hidrogen dan oksigen) melalui slang ke intake manifold yang di depan karburator. Karena itulah, bensin yang dikonsumsi jadi sangat sedikit sekali. Sebab, energi pembakaran diraih dari oksigen dan hidrogen tambahan tadi.

Untuk mengisi air bisa dari air mineral dan volume tabung sekitar 300 ml. Jumlahnya tdak akan berkurang, hanya keruh dan martin menggantinya setiap tiga hari sekali.

Selain itu, Martin memakai Xado Revitalisasi, Turbo dan Anti Carbon. Semacam cairan yang dicampur ke dalam oli mesin. Tujuannya, untuk mengembalikan kondisi jeroan mesin seperti baru. “Kompresi atau kualitas dalaman mesin setelah masa pakai tidak akan mempengaruhi performa,” tegas pria yang kerja di Telkomsel.

Dengan kondisi mesin seperti baru, berarti gas tak perelu dibejek. Ujung-ujungnya sedikit bensin yang terbakar. Dan pemakaian cairan ini diyakini Martin memberi kontribusi sekitar 5 persen.

Dari bahan bakar, Martin coba mencegat pada sistem kelistrikan. Di sektor ini, ia menggunakan DC Booster yang dipasang paralel ke aki. Diestimasikannya memberi keuntungan sampai 15 persen. “Dengan begitu, pembakaran jadi lebih sempurna,”yakin pria asal Padang, Sumatera Barat.

Masih di kelistrikan, untuk menjaga kestabilan tegangan input CDI, supaya bekerja optimal, ditambah dengan stabilizer yang dipasang antara aki dan CDI. Alat ini menyumbang peran sekitar 10 persen.

Terakhir, Xtreme Fire Booster yang ditempatkan antara koil dan busi. Fungsinya memperkuat energi pengapian. Peran dalam pengiritannya dinilai Martin bisa sampai 20 persen.

Penasaran, silakan pasang!

versi Kompas Otomotif: Bajaj Pulsar 200 DTSi Teririt di Dunia dari LA

oleh MOTOR PLUS/HARRY AXL
Inilah peranti pengiritan yang dipakai Martin

Selasa, 3/2/2009 10:51 WIB
Wow! Dengan 1 liter bensin Bajaj Pulsar 200 DTSi bisa menempuh sejauh 266 km. Barangkali motor dari India ini boleh diklaim sebagai yang teririt di dunia. Dikatakan oleh si pemiliknya, Hendry Martin ST. Kata pria yang tinggal di LA (bukan Los Angeles, tapi Lenteng Agung) bahwa setiap bulan hanya diisi 5 liter bensin.

Setiap hari rute motor jenis sport itu dari rumah ke kantor berjarak 26 km. Belum lagi,kata Martin, dibawa keliling rumah. Penasaran kan, kok bisa seirit itu? Bebek maupun skubek aja enggak ada yang bisa menempuh di atas 100 km untuk 1 liter.

Saking penasarannya, tim Motor Plus pun menjajalnya, meski harus dua kali lantaran yang pertama ada kebocoran pada peralatan. Baru uji kedua dengan menempuh 16 km menghabiskan bensin 60 ml. Jadi, kalau 1 liter (1.000 ml) bisa merayap sejauh 266 km. Padahal, standarnya Pulsar DTSi untuk 1 liter hanya mencapai 40 km.

Generator hydrogen
Martin bisa bikin motornya superirit hanya bermodalkan sekitar Rp 1,5 juta. Biaya itu untuk membeli berbagai peranti penghemat seperti Xado Revitalisasi, DC Booster, CDI stabilizer, Xtreme Fire booster dan Generator Hydrogen. Dari semua peranti itu, generator hydrogen memberi pengaruh paling besar dan harga alatnya Rp 375 sudah termasuk ongkos pasang.


Keiritannya bisa mencapai 47,5 persen. Alat ini yang memproduksi air menjadi bahan bakar. Karena, kata Martin, generator memiliki elemen atau sel yang beresonansi setelah diberi arus listrik. "Akibat resonansi tadi, gas hidrogen dan oksigen yang ada di air keluar dan kemudian disalurkan ke karburator sehingga terjadi ledakan," bilang warga Jl Joe No 27 Lenteng Agung, Jakarta Selatan, ini.

Sistem penyaluran gas (hidrogen dan oksigen) melalui selang ke intake manifold yang di depan karburator. Karena itulah, bensin yang dikonsumsi jadi sangat sedikit sekali. Sebab, energi pembakaran diraih dari oksigen dan hidrogen tambahan tadi.

Untuk mengisi air bisa dari air mineral dan volume tabung sekitar 300 ml. Jumlahnya tdak akan berkurang, hanya keruh dan Martin menggantinya setiap tiga hari sekali.

Penasaran, silakan pasang!

Oxyhydrogen, Step terakhir konsep optimalisasi


klik gambar untuk melihat lebih besar agar terbaca
Rekan, telah terbukti bahwa Hydrogen Booster/ Oxyhydrogen sebagai langkah final pengiritan dan penambah tenaga.
Pembelian, Pemasangan, Garansi uang kembali, Menjadi Reseller/ distributor, tanpa ragu bisa hubungi kami

Kunjungi Info lainnya di website di bawah ini :
http://www.sripoku.com/view/5668/Bajaj_Pulsar_200_DTSi_Teririt_di_Dunia.html
http://otomotif.kompas.com/read/xml/2009/02/03/10514911/bajajpulsar200dtsiteriritdiduniadarila
http://pulsarian.or.id/pulsarian/index.php?option=com_content&task=view&id=355&Itemid=1

Dynotest Engine Result :

1. Tarikan makin panjang dengan penggunaan hydrogen
2. Mesin lebih halus dengan implementasi " Konsep Optimalisasi " yang membuat penghematan sampai 600% tanpa efek negatif.
3. Suhu mesin lebih rendah (turun 30 derajat) dibanding tanpa Konsep Optimalisasi.

15 Januari 2009

New Design electronics for HHO

Sudah saatnya teknlogi HHO versi kami diupgrade sistemnya:
1. Konsumsi daya lebih efisien dengan design konsep terbaru kami, alat ini bukan Pulsed Width Modulation/ DC Motor controller, TIDAK PANAS masih menjadi hal utama yang kami kerjakan untuk design sistem kami
2. Menggunakan kipas, yang walau tidak masalah tetapi kami mau meminimalkan kerusakan karena air maupun karena panas, makin handal
3. Anti air/ water proof design
4. Frekuensi kerja mencapai sistem yang switching mode power supply, sangat efisien, hal2 kritis tentang pemanfaatan frekuensi ultra sonic ini sedang kami kerjakan
5. Pengamanan yang semakin baik bagi para peniru dan kehandalan alat yang ditingkatkan lagi
6. Harga yang semakin tertekan? ditekan untuk mencapai user seluas mungkin
7. Alat ini adalah cikal bakal HHO genset, truck, dan mobil

24 Desember 2008

Irit BBM dengan Generator Hidrogen


27 May 2008, 02:15 pm
[YOGYAKARTA] Jauh- jauh hari sebelum pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) dan menyerukan penghematan energi, warga Yogyakarta, Joko Sutrisno, telah membuat generator hi- drogen. Sebuah tabung plastik berisi air murni atau aquades, dilengkapi dengan elektrode berbahan baja, serta diode atau releypada mobil, dapat mengubah molekul hidrogen menjadi energi. Melalui proses elektrolisis, pengatur tekanan menuju manifold(keran plastik) akan membuat sistem pembakaran mesin mendekati sempurna.
Tenaga mobil/motor, bahkan genset, meningkat drastis. Mesin menjadi lebih halus, emisi gas buangnya pun minim. Bersih dan irit bahan bakar, kata Joko Sutrisno (50), pencipta generator hidrogen di Yogyakarta, baru-baru ini.
Alat itu sebetulnya dibuat bukan untuk membuat irit bahan bakar, melainkan dirancang untuk mengganti pre- mium ataupun solar. Pada masa mendatang, Joko akan memaksimalkan penggunaan air, sehingga kendaraan dapat melaju 100 persen dengan tenaga air. Saya uji coba dengan mobil saya sendiri dan sudah berlangsung 2 tahun tanpa masalah, meski dulu saya sering dikatai orang gila, katanya.
Generator hidrogen terbuki mampu mengurangi konsumsi BBM. Kalau sebelumnya, sebuah motor dengan 1 liter premium dapat menempuh jarak 40 km, setelah menggunakan alat itu, dapat digunakan sejauh 80 km. Bahkan, bus jurusan Yogkarta-Jakarta yang biasa menghabiskan 200 liter solar, kini hanya mem-butuhkan 120 liter.
Setiap hari puluhan peng-guna mobil dan motor antre untuk mencoba alat sederhana ciptaan warga HOS Cokroaminoto Nomor 76 Yogyakarta ini, tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya. Mereka cukup mengeluarkan Rp 75.000 untuk motor dan Rp 150.000 untuk mobil. Proses pemasangannya pun tak berbelit-belit, paling lama setengah jam.
Teknologi ini sebenarnya sederhana. Kunci utamanya terletak pada hidrogen dalam air untuk dijadikan bahan bakar dengan proses pemisahan molekul gas yang memiliki nilai oktan pada angka 130. Hidrogen yang terurai tersebut kemudian diteruskan ke dalam ruang kompresi sepeda motor.
Joko berjanji pada Desember 2008, penelitian lanjutannya akan selesai, sehingga motor dapat beroperasi 100 persen dengan air. Soal alat temuannya, Joko mengakui bahwa untuk kendaraan bermotor masih perlu BBM sebagai bahan bakar utama, namun setelah dipasang generator hidrogen, konsumsi BBM bisa dihemat antara 40 persen hingga 50 persen.
Terkait temuan itu, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) meragukan temuan generator hidrogen. Secara formal BPPT belum melakukan penelitian lebih jauh mengenai kinerja generator hidrogen. Hal itu dikemukakan Kepala Analisa dan Optimasi Energi BPPT, Edi Himawan kepada SP, Selasa (27/5).
Dia berpendapat, pada dasarnya mobil didesain untuk menggunakan bahan bakar minyak (BBM), sehingga tidak mungkin seratus persen menggunakan air. Namun, dia mengakui alat yang disuplai dengan air dapat menghemat BBM, tetapi tidak mungkin 100 persen menggantikan BBM.
Selain itu, Edi mengatakan hidrogen tidak mudah diuraikan, termasuk dari air menjadi energi. Energi hidrogen itu dipecah pakai apa? Kemudian energi listrik butuh berapa? Mungkin penemunya belum menghitung keseimbangan energi. [152/DGT/M-15] http://www.koranindonesia.com/2008/05/27/irit-bbm-dengan-generator-hidrogen/
http://www.kawasaki-zx130.org/forum/index.php?topic=2026.0
http://www.tasikmalayakota.go.id/pnbb/viewtopic.php?id=276
http://www.lintasberita.com/Sains/Irit_BBM_dengan_Generator_Hidrogen

Motor Teririt di Jakarta

Biar Hemat, Mobil Presiden Dipasangi Tabung Hidrogen

Biar Hemat, Mobil Presiden Dipasangi Tabung Hidrogen
Rizky Abror

JAKARTA,KAMIS - Joko Sutrisno, penemu cara menghemat bahan bakar dengan menggunakan air mengaku telah memasangkan dua tabung hidrogen di mobil Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono. Tabung itu dipasangnya pada tanggal 8 Juni yang lalu. Pada saat itu, Joko mengaku, Presiden ingin mencoba saja temuan baru Joko. "Saya cuma bingung, ini mobil nggak perlu beli bensin kok pakai menghemat segala," ujar Joko sambil terkekeh, ketika ditemui Kompas.com, Kamis (19/6).
Joko mengatakan bahwa Presiden biasanya tidak perlu membeli bahan bakar, cukup menukarkan suatu kartu tertentu di tempat-tempat pengisian bahan bakar.
Temuan Joko memang membuat orang berbondong-bondong menghubungi Joko dan mendatangi rumahnya untuk memiliki tabung hidrogen jadi dan mengetahui cara pembuatan tabung serta proses elektrolisa yang dilakukannya. Terhitung, setiap hari dia memasang tabung pada sekitar 25 mobil dan 50 motor sejak dirinya tampil di salah satu stasiun televisi untuk memperkenalkan temuannya.
Rekan-rekannya yang sudah cukup menguasai setelah diajarinya sudah tersebar di beberapa daerah lain, seperti Pekalongan, Jakarta, Cibubur, dan sebentar lagi Lampung. Salah satu rekannya yang juga belajar padanya, Hasyim 'membuka cabang' di Pekalongan bahkan terbuka menangani permintaan untuk kapal laut. Selain itu, untuk memenuhi pesanan tabung hidrogen jadi, dia memberdayakan ibu-ibu PKK di daerahnya di Pakuncen."Sebenarnya saya tidak berniat jual, tapi justru mereka bisa membuat sendiri, tapi karena ada orang-orang yang mau barang jadi, saya minta divisi lain, yang ngerjain ibu-ibu PKK. Hitung-hitung bisa bikin lapangan kerja sendiri," ujar Joko.
Memang, keberhasilan temuan Joko untuk menghemat pemakaian BBM telah dibuktikan oleh rekan-rekannya tersebut sehingga mereka penasaran dan kembali kepada Joko untuk mencari tahu. Rekannya di Jakarta yang bernama Ronald yang menggunakan Mercedes-Benz tua mengakui penggunaan bahan bakarnya sejak menambahkan hidrogen berubah dari 1 liter per 5 km menjadi 1 liter per 9 km. LIN

Komentar anda
mbah joyo @ Jumat, 20 Juni 2008 09:51 WIB hidrogen sbg bahan bakar uda dulu,pabrik di indonesia juga ada....dapat juga dicampur air....motor ku juga bisa jalan dg BBM campuran air murni walau pelan....Soale ndorong...he he he...
bie @ Kamis, 19 Juni 2008 19:20 WIB Joko Sutrisno inilah pahlwan blue enrgy sebenarnya; bukan Joko lainnya.
poer @ Kamis, 19 Juni 2008 19:12 WIB mungkinkan ini sama dengan yg di lakukan teman di jogja dan muntilan ? yang menggunakan bahan dasar air sebagai upaya untuk menghemat bbm ?
bima @ Kamis, 19 Juni 2008 16:49 WIB hidrogen nama lainnya adalah gas letup (buku pelajaran kimia anorganik di SMA). Sifatnya sensitif thd panas/api. Sesuai dengan UU tabung bertekanan harus ditera. Ati-ati lho!
Liz @ Kamis, 19 Juni 2008 16:42 WIB Dimana saya bisa memebeli nya di Jakarta. saya tertarik untuk menggunaknnya dimobil dan berapa harganya?
http://otomotif.kompas.com/read/xml/2008/06/19/14032514/biar.hemat.mobil.presiden.dipasangi.tabung.hidrogen

Air Dapat Menghemat Pemakaian BBM

Air Dapat Menghemat Pemakaian BBM
Caroline Damanik

Joko Sutrisno, warga Pakuncen Yogyakarta yang menemukan cara menghemat bahan bakar dengan memanfaatkan air suling dan Kalium Hidroksida sebagai katalisator melalui proses elektrolisa. Joko sedang menunjukkan 'khasiat' hidrogen dengan alat semacam reaktor hidrogen di Jakarta, Kamis (19/6).

Kamis, 19/6/2008 13:49 WIB
JAKARTA,KAMIS - Tingginya potensi tenaga ledakan yang dapat dihasilkan oleh hidrogen menunjukkan betapa hidrogen memiliki potensi yang besar pula untuk menggerakkan mesin mobil atau motor. Dengan tarikan sedikit saja, mesin sudah bisa meluncur dengan cepat.
Belum lagi fakta bahwa tarikan yang sedikit membuat bahan bakar yang digunakan makin sedikit. Maka bukan hal yang gendeng jika Joko Sutrisno, warga Pakuncen Yogyakarta menggabungkan air dengan bahan bakar bensin ataupun solar untuk menghemat pemakaian bahan bakar. Berbekal air suling, Kalium Hidroksida (KOH), dan beberapa alat, Joko yakin dapat menghemat pemakaian bahan bakar hampir 80 persen.
"Bahan peledak bensin jika ditambah hidrogen, daya ledaknya jadi luar biasa. Pedal nggak usah kuat-kuat ditekan, kecepatannya sudah sama. Tentu saja berpengaruh ke sedotan bensin oleh mesin," ujar Joko ketika ditemui Kompas.com di Hotel Maharaja, Jakarta, Kamis (19/6). Dalam demo yang dilakukannya di depan Kompas.com di halaman parkir Hotel Maharaja, Joko menunjukkan 'khasiat' hidrogen dalam menghasilkan ledakan dan daya dorong pada potongan mesin motor.
Hasilnya, dahsyat. Ledakannya cukup kuat dan dorongannya sangat cepat. Ledakan yang kuat dan dorongan yang sangat cepat itu sebenarnya dihasilkan oleh hidrogen yang telah terperangkap dalam air sabun pada demo ini. Begitu pula yang akan terjadi pada mesin mobil misalnya.
Campuran air suling dan KOH yang diberi listrik akan memisahkan gas hidrogen dan oksigen. Kemudian gas hidrogen dialirkan ke manipol sehingga bertemu dengan gas dari bensin atau solar yang sudah dibakar. Kemudian campuran kedua gas ini akan masuk ke piston dan diledakkan oleh busi sebagai pemantiknya.
"Air yang harus digunakan harus air suling, biasanya Aquades atau air hujan sekalian. Perbandingannya, satu liter air, ditambah kira-kira tiga gram KOH," ujar Joko. Campuran air suling dan KOH memang memerlukan tempat khusus sehingga Joko membuat tabung-tabung sederhana yang telah dirakit dengan alat-alat lain, seperti elektroda.
Untuk mobil, tabungnya berbentuk botol aki yang berbentuk kotak, sedangkan untuk motor, tabungnya berbentuk tabung botol kecap yang biasa ditemui di rumah-rumah makan.
"Tabungnya harus dari plastik tapi jangan tebal supaya kalau terjadi ledakan tidak terlalu berbahaya," ujar Joko. Resiko ledakan sama sekali tidak menimbulkan api dan panas karena memang begitulah sifat hidrogen. Selain itu, ledakan juga selalu mengarah ke atas, bukan ke samping sehingga memperkecil resiko merusak habis tabung tersebut.
Demo yang dilakukan Joko Sutrisno dilakukan hampir bersamaan dengan demo yang juga dilakukan Djoko Suprapto di Nganjuk, Jawa Timur. Teknologi yang diperlihatkan keduanya ternyata mirip, bukan mengubah menjadi bahan bakar, melainkan hanya menggunakan air untuk menghemat penggunaan bahan bakar.

aDHydro Static Mobil di Majalah Motor EDISI XIII/335/2008

HYDROGEN BOOSTER
DOPING VIA INJEKSI HIDROGEN

Pemanfaatan energi alternatif yang sekarang ini sedang giat-giatnya dikembangkan, bukan mustahil akan datangkan hasil menggembirakan nantinya sebagai pengganti bahan bakar fosil. Tetapi dari sekian banyak hal yang sudah dapat dilakukan via pemanfaatan energi alternatif yang disebutkan tadi, hanya metode air saja yang dianggap mudah dan murah dalam pengaplikasiannya. Terlebih, sifatnya yang relatif mudah didapat. Untuk itu, kemunculan sekelompok orang yang concern terhadap aplikasi teknologi air. Metode ini bukan gusur total bensin, tetapi melalui air diciptakanlah senyawa yang berfungsi sebagai ‘doping’, guna meningkatkan efisiensi pembakaran pada ruang bakar. Elektrolisis sendiri di sini diartikan sebagai proses pemisahan senyawa kimia air murni jadi hidrogen (H2) dan oksigen (O2) via aliran arus listrik ke pelat stainless steel yang dicelupkan ke dalam air tadi. Buat aplikasi di mobil, proses elektrolisis ini dibantu kinerjanya oleh arus listrik dari aki. Maka alat inilah yang disebut hydrogen booster atau penghasil gas hidrogen. Arief Budianto, salah seorang narasumber yang juga concern terhadap pengembangan teknologi ini mengatakan, “Poin utama pemakaian hydrogen booster bukan pada pengiritan bahan bakar, tetapi pada kesempurnaan efisiensi pembakaran. Yang akibatnya akan buat mesin jadi lebih bertenaga tapi tingkat konsumsi bahan bakar yang bisa dikatakan sesuai dan ramah lingkungan.” Klaimnya, hydrogen booster ini bisa naikkan performa mobil plus hilangkan gejala knocking yang sudah lama dikeluhkan sebelumnya. Secara umum, hidrogen booster ini dilengkapi dengan 2 wadah air, yang salah satunya berfungsi sebagai tempat proses elektrolisis buat pembentukan hidrogen dan oksigen. Yang lainnya difungsikan sebagai bubler pengaman. Sehingga gas yang dihasilkan akan dirubah dalam bentuk gelembung udara. Itu juga membantu pisahkan kinerja ‘generator’ hidrogen dan mesin mobil, sekaligus berfungsi sebagai dryer atau penghilang kelembaban gas hasil proses elektrolisis tadi. Dimana gas ini lalu disalurkan masuk ke mesin melalui saluran udara ke throttle body atau karburator. Dan hal ini diklaim akan membuat mesin tetap bekerja normal, walaupun pada kondisi campuran bahan bakar yang terbilang minim. Tetapi catatan penting Arief, -panggilan akrabnya-, dalam menciptakan alat yang berbahan dasar air ini adalah boiling point. Hal ini tak lain untuk cegah air cepat mendidih di dalam wadah, yang akan berubah jadi uap air dan cepat habis. Selain itu, uap air ini juga dinilai kurang bersahabat dengan jeroan mesin karena potensi merusaknya. Diperlukan ‘ECU’ pada hidrogen booster, yang dirancang dengan perangkat elektronis, mengatur besaran suhu ideal dibatasi sebelum mencapai suhu titik didih air. Hasil olahan tadi yang berupa hidrogen selanjutnya dimasukkan ke ruang bakar. Nah, di ruang bakar inilah hidrogen banyak bantu proses pembakaran dengan karakteristiknya yang relatif lebih cepat terbakar sekaligus punya suhu pembakaran yang lebih rendah daripada bahan bakar konvensional. Maka apabila gas hasil elektrolisa diinjeksikan ke dalam ruang bakar, volume gas hasil elektrolisa sedikit banyak bisa gantikan campuran bahan bakar yang masuk ke ruang bakar. Hal ini juga munculkan kandungan oksigen dalam ruang bakar jadi relatif lebih banyak dibandingkan campuran bahan bakar saja. Akibatnya, tentu pembakaran lebih efisien dan terasa seperti terjadi peningkatan tenaga. Ilustrasinya begini; seperti diketahui, pembakaran bahan bakar di dalam ruang bakar tak pernah mencapai seratus persen. Artinya, pada langkah awal kerja hingga langkah pembuangan, campuran bahan bakar masih bereaksi. Dengan kata lain, masih ada sisa bahan bakar yang tidak terbakar sempurna, yang akibatkan penumpukan karbon di ruang bakar karena laju rambat pembakaran (front flame) dari bahan bakar yang relatif lebih lambat. Nah dengan hidrogen, maka bahan bakar mampu dibakar habis. Otomatis terjadi efisiensi lewat peningkatan tenaga maupun gas buang yang cenderung lebih ‘hijau’, karena mengurangi kadar Karbonmonoksida (CO) dan Hydrocarbon (HC), serta meningkatkan Oksigen (O2)
Impresi Aplikasi Hydrogen Booster : JADI LEBIH IRIT DAN BERTENAGA
Memang hidrogen booster ini bisa dperdebatkan efektivitasnya. Utamanya dalam hal besaran daya buat hasilkan hidrogen dalam proses elektrolisa. Karena alternator mobil sendiri daya alternatornya terbatas, maka makin banyak arus listrik yang diproduksi alternator, sebanding sama banyaknya konsumsi bensin. Tetapi hal tersebut bukanlah masalah besar. Sebab klaim pembuktian hidrogen booster buatan Arief pada BMW 318i (E30) tahun 1990 bermesin 1.800 cc, terbukti adanya penghematan pemakaian bahan bakar yang mencapai lebih kurang 10%. Ini didapat dari perhitungan jarak tempuh yang 254 km, dibagi dengan 29 liter Premium yang terpakai. Metodenya sendiri dengan mengisi penuh tangki bahan bakar, yang pada titik tertentu kemudian, bahan bakar yang berkurang di tangki akibat konsumsi untuk jarak yang sudah dijalani ditambahkan kembali. Maka didapatlah hasil 1:8,6, “Padahal sebelumnya, untuk dapetin angka 1:8 aja susahnya minta ampun,” ujar Adi sang pemilik. “Lagi pula tenaganya (mesin, Red) jadi besar dan ngelitiknya hilang,” tambah Adi lagi. Untuk membuktikannya langsung, MOTOR mencoba hitung kecepatan data dengan pakai Vericom VC3000 di mobil Adi. Metode pengetesannya dengan menitik-beratkan akselerasi 0-100 km/jam, dengan atau tanpa hidrogen booster. Sebelumnya di dalam mobil terdapat 3 orang dengan total berat 250 kg, dengan kondisi mesin mobil standar pabrikan. Setelah dilakukan pengetesan beberapa kali, hasil hidrogen booster munculkan hasil 14,04 detik dalam jarak 239,9 m. Ini adalah angka paling tinggi didapat pada saat pengetesan. Sedangkan jika dibandingkan waktu tercepat tanpa booster ini diperolehlah waktu 14,13 detik. Maka di sini terjadi peningkatan akselerasi lebih dari 0,10 detik.
Menyiasati kenaikan bahan bakar fosil, penggunaan hidrogen booster ini bisa dibilang besar manfaatnya. Bayangkan saja, dengan nilai oktan yang terbilang besar di atas 130, maka hidrogen punya tahanan lebih baik untuk tekanan kompresi dibanding bahan bakar konvensional. Untuk mobil-mobil yang minum Pertamax (oktan 94) dan Pertamax Plus (oktan 98) sebagai bahan bakarnya, paling terasa keiritannya. Sebab dengan hidrogen, maka pemakaian Premium (oktan 80) bisa dilakukan dengan performa mesin yang serupa. Sebab dengan pencampuran ini, bikin nilai oktan pada premium bertambah (130+80), tentu saja kurangi konsumsi bensin beroktan lebih tinggi daripada bahan bakar sebelumnya. Lagian, gejala knocking pun dijamin tidak muncul, sebab percampuran ini sudah memenuhi kebutuhan oktan bagi mesin. Ilustrasi singkatnya seperti ini; jika per minggu satu mobil Pertamax membutuhkan bahan bakar 50 liter dengan asumsi harga per liternya Rp 10 ribu, maka uang yang dibelanjakan per minggunya untuk bahan bakar adalah Rp 500 ribu. Nah dengan pemakaian hidrogen booster jadi yang dihargai Rp 1 juta, maka pergantian ke Premium bisa dijalani. Kalau saja pemakaian Premium yang harganya Rp 6 ribu seliter sama dengan Pertamax yang 50 liter per minggunya, maka uang yang dibelanjakan pun jadi lebih sedikit. Hanya berkisar Rp 300 ribu, berarti penghematannya mencapai Rp 200 ribu per minggu. Dalam satu bulan atau 4 minggu, total penghematan mencapai Rp 800 ribu. Silakan pilih!
Reporter : Rudy

aDHydro HHO Variable Motor di Tabloid Otomotif Edisi 31